Detak-Palembang.com JAKARTA – Anjloknya harga ayam potong di tingkat produsen ke penjual dari harga Rp23ribu/jb saat Ramadhan, najlok sampai Rp8ribu/kg membuat polemik saling tuding antar peternak ayam potong dan pemerintah.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menuding hal itu disebabkan para integrator kurang cerdas menghitung produksi & kapasitas di pasar. Dirjen Peternakan & Kesehatan Hewan Kementan, I Ktut Diarmita, menduga ulah pihak tertentu karena jauhnya disparitas harga pasar & peternak. “Entah itu oleh broker atau distributor,” ujarnya kepada wartawan, baru-baru ini.

Sementara Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Krissantono, tetap mempertanyakan keabsahan data hasil audit Kementerian Pertanian karena ketidakjelasan jadwal pendistribusian pembibitan biang bibit atau grand parent stock (GPS) impor serta hasil produksi di lapangan. “Ada faktor lain yang perlu diperhitungkan tapi tak terungkap dalam data, yang menyulitkan pelaku usaha dalam menghitung dan merencanakan produksinya.”

Akibatnya, berkelebihannya antara produksi dengan kebutuhan konsumsi nasional. Pada 2017 produksi daging ayam ras pedaging mencapai 2,14 juta ton atau meningkat 97 ribu ton (4,75%) dari tahun sebelumnya yang 2,04 juta ton. Dibanding pada 2013 produksi daging ayam pedaging hanya mencapai 1,54 juta ton dengan tren meningkat tiap tahun.

Kementan mencatat surplus kondisi daging ayam nasional pada 2018 bahkan bisa diekspor. Dirjen Ktut Diarmita menyebut potensi produksi karkas berdasar realisasi produksi DOC (bibit ayam pada Januari-Juni dan potensi Juli-Desember sebanyak 3.382.311 ton, dengan rataan per bulan 27.586 ton. Sementara proyeksi kebutuhan daging ayam (karkas) 2018 sebanyak 3.051.276 ton, dengan rataan kebutuhan 254.273 ton/bulan.

Dampaknya, peternak ayam di sejumlah daerah Jawa Tengah membagikan gratis ayam kepada masyarakat. Seiring ajakan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Tjahya Widayanti, agar menyerap pasokan daging ayam ras di peternak untuk menaikkan harga ayam. “Kami berharap Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) untuk melakukan hal sama sesuai harga acuan pembelian di peternak sesuai Permendag 96 tahun 2018. APRINDO dapat berkoordinasi dengan Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN),” ujarnya, Selasa (2/7/2019).