Detak – Palembang.com PALEMBANG –
Setelah dirawat selama satu pekan di rumah sakit Rk Charitas, Wiko Jerianda (14) menghembuskan nafas terakhirnya, pada Jum’at (19/7) sekitar pukul 20.30 WIB.

Wiko meninggal diduga menjadi korban atas kekerasan saat menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS) di SMA Taruna Indonesia Palembang. Keluarga Almarhum sebelumnya melaporkan anaknya merupakan korban tambahan kekerasan proses penerimaan siswa baru di SMA Taruna.

Rencananya, jenazah korban akan dimakamkan oleh keluarganya di Pemakaman Umum Talang Karet Kelurahan Sentosa Kecamatan SU II Palembang, hari ini sabtu (20/7) siang.

Paman korban Supri (35), mengaku sangat terpukul atas kepergian keponakannya. Apalagi keponakannya itu meninggal diduga menjadi korban atas kekerasan saat menjalani Masa Orientasi Sekolah (MOS).

“Ya, kami selaku keluarga sangat terpukul atas kepergiannya, apalagi keponakan saya ini meninggal diduga dari kekerasan saat menjalani MOS,” ungkapnya saat ditemui di rumah duka di Jalan Pertahanan Kelurahan 16 Ulu Kecamatan SU II Plaju Palembang.

Diketahui sebelumnya, Wiko Jerianto yang merupakan Siswa SMA Taruna Indonesia yang ada di Palembang. Saat mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS), Wiko dikabarkan mengalami trauma dan tidak sadar sejak satu pekan yang lalu. Setelah satu pekan tidak sadar, Akhirnya Wiko Pun dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit Rk Charitas.

Setelah dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit Rk Charitas, pihak keluarga yang tidak bisa terima atas apa yang sudah terjadi kepada anaknya yang diduga meninggal akibat kekerasan saat mengikuti kegiatan MOS di SMA Taruna Indonesia Palembang, langsung mengambil langkah hukum, melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Palembang, melalui kuasa hukumnya Firli Darta SH.

“Adapun yang kami laporkan dari pihak sekolah SMA Taruna Indonesia karena diduga almarhum meninggal akibat dari kekerasan yang dilakukan oleh pihak sekolah saat melakukan masa orentasi (MOS). Jadi kami berharap agar pihak kepolisian bisa mengungkap atas kejadian yang dialami almarhum Wiko,” jelasnya.

Adapun bukti-bukti yang menjurus terjadinya penganiayaan, terdapat luka lebam di punggung korban, dan juga dari daftar riwayat hidup almarhum tidak ada penyakit. (molem)