Detak-Palembang.com LUBUKLINGGAU – Menyikapi desas desus pelaksanaan Musyawara Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (Musda KNPI) Kota Lubuklinggau yang beberapa pekan terakhir santer beredar karena kontroversialnya, kali ini kembali menuai kritik salah satunya dari Satuan Pelajar dan Mahasiswa (SAPMA) Kota Lubuklinggau dan beberapa Organisasi Kepemudaan (OKP) lainnya.

Ketua OKP SAPMA Lubuklinggau, Edo mempertanyakan bahwa pertama desas desus Musda KNPI itu bermuara dari mana dan untuk kepentingan siapa. Dan kedua surat keputusan KNPI Kota Lubuklinggau tentang susunan panitia Musda V KNPI Kota Lubuklinggau yang tertanda tangan oleh Hendi Budiono (HB) itu juga menurut Ketua Sapma Kota Lubuklinggau patut dipertanyakan publik, “kapan-kapan ada Ketua KNPI definitive berinisial HB”. tegas Edo

Kemudian Edo juga mengurai sedikit sejarah KNPI Lubuklinggau dimana semula ketua KNPI Kota Lubuklinggau di ketuai oleh almarhun Ferry FY kemudian baru ada PLT, yang kabarnya adalah HB yang merupakan KNPI versi Ketua Umum Muhammad Rifa’I Darus, tetapi masa penggurusannya sudah berakhir sejak tahun 2017 lalu.

Selain itu, KNPI Versi Ketua Umum Fahd A. Rafiq juga ada di Kota Lubuklinggau sejak tahun 2017 dengan Nomor : KEP.023/DPD-KNPI-SS/III/2017 yang baru akan berakhir pada tahun 2020 mendatang.

“Ini kan lucu kalau ada yang mau Musda, yang mana Kepengurusannya sudah bertahun-tahun habis dan bahkan kepengurusan provinsi sampai pusatnya juga telah berakhir,” ujar Edo.

Selanjutnya Fajar, dari Ketua OKP GP Nusantara juga mempertanyakan mekanisme dalam pelaksanaan Musda tersebut baik dari mana penghantar sidang, bagaimana pelaporan pertanggungjawaban, sampai pada siapa yang akan melantiknya nanti.

Karena mengingat KNPI Provinsi Sumatera Selatan yang aktif saat ini adalah hanya M. Hidayat yang merupakan KNPI dari Borobudur, Batavia turunan dari Ketua Umum Fahd A. Rafiq.

Maka dari itu Fajar mengajak kawan-kawan OKP se Kota Lubuklinggau agar berfikir cerdas, apalagi lagi KNPI sekarang tidak lagi dualisme melainkan berisme-isme. Dan kita hanya OKP berkedudukan di daerah dimana dapat dipastikan pada tingkat nasionalnya sudah bermazhab di salah satu isme tersebut. “jangan sampai kita di daerah ini terjebak dengan kepentingan yang hanya bersifat lokal saja”. Tegas Fajar.

Kembali menurut ketua Sapma Kota Lubuklinggau bahwa pihaknya menyatakan tegas akan melayangkan surat peringatan dan penolakan yang ditujukan kepada Walikota Lubuklinggau agar tidak mengakomodasi kepetingan Musda tersebut. Karena, saat ini sedang ada upaya rekonsiliasi pasca Pilpres antara Ketum Abdul Aziz yang terpilih pada kongres XV di Borbudur, Batavia dan Noer Fajriensyah yang terpilih di Bogor.

“Kita berharap kepada Walikota Lubuklinggau agar tidak mengakomodir Musda, apalagi ini masa bakti terakhir beliau di kota ini, jangan buat preseden buruk di tubuh pemuda, apalagi KNPI yang sah masih berlaku masa kepengursannya,” tegas Edo. (rilisi)