Detak-Palembang.com PALEMBANG – Pameran produk kerajinan terbesar di Indonesia ini, Rabu (24/4) secara resmi dibuka oleh Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo di Jakarta Convention Center (JCC).

Acara yang sudah dihelat ke-19 kalinya ini, melibatkan ribuan peserta dari seluruh daerah di Indonesia, yang terdiri dari pengrajin, pengusaha dan eksportir kerajinan yang menghadirkan berbagai produk unggulannya.

Mulai dari kerajinan tangan, batik, tenun, keramik, mainan, perhiasan, dekorasi rumah hingga aksesoris.

Walikota Palembang H.Harnojoyo yang diwakilkan Asisten III sekaligus Pelaksan tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Palembang Agus Kelana mengatakan, tahun ini Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang menampilkan berbagai kerajinan seni asli sebagai Ikon Kota Palembang yakni Kain Songket.

“Tahun ini kita lebih menonjolkan kerajinan sandang (Kain Songket),” kata Agus Kelana.

Kain Songket yang sudah dikenal hingga ke manca negara ini, kata Agus, kali ini di stand Pemkot Palembang bisa melihat kain songket yang sudah berumur ratusan tahun lamanya, yang kini masih tersimpan dengan sangat rapi.

Bahkan kekayaan nilai seni dari kain songket ini pun bisa tergambar jelas kekayaan yang dimiliki Kota Palembang dalam balutan kain asli Palembang tersebut.

“Selain kain songket, jumputan dan Limar antik,tas berbahan jumputan dan songket koleksi Ketua Deskranasda Kota Palembang Selviana Harnojoyo , di stand ini juga bisa melihat langsung adanya Songket Jantung (kain songket berbahan asli benang emas),” ungkapnya.

Dipameran bergensi ini, sambung Agus Pemkot Palembang mengadeng banyak umkm yang ada, diantaranya, Ayla Kirana Songket ,Intan Songket dan Galeri Wong Kito.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Palembang Selviana Harnojoyo mengatakan,dari beragam corak dan warna yang ditampilkan dalam kain asli Palembang ini, sudah mengunakan bahan ramah lingkungan.

“Kalau pewarna kain jumputan kita sudah melakukan terobosan baru, yakni tidak mengunakan bahan perwarna textile, seperi untuk warna kuning kita mengunakan kunyit dan hijau mengunakan gambir,” katanya.

Bahan alami yang tidak merusak lingkungan inilah, katanya harus digalakan sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Hal seperti inilah yang harus kita wariskan pada generasi penerus kita, terlebih menjaga warisan khasana budaya yang dimiliki untuk lebih dikenalkan kepada generasi muda kita,” tegasnya.

Sementara itu owner Ayla Kirana Songket Hermasnyah Mastari mengatakan, ada banyak motif kain songket asli kerajinan Palembang yang ditampilkan, mulai dari motif nampan perak, Jando Beraes, Nago Besaung,Kertas Mider, Bunga Rantik.

“Kain songket yang sudah berumur ratusan tahun ini, direkondusi ulang,dengan cara benang emasnya di tarik dan dibuat kain songket yang baru,” ungkapnya.
Rata- rata untuk satu kain songket ini di hargai hingga mencapai ratusan juta.

“Berkisaran harga dari Rp 30 juta hingga Rp 240 juta,” ungkapnya lagi.